Siapa
sih yang ngga kenal “Dakwah”? Semua Muslim pastinya tau dong apa artinya itu.
Dakwah ialah mengajak. Mengajak kepada kebaikan, dan menghindari keburukan. Amar
ma’ruf, dan nahi munkar. Kita sebagai Muslim, tentunya diwajibkan berdakwah,
sesuai dengan kapasitas ilmu yang telah kita dapat.
Sesuai dengan hadits yang tertera di
Splash Screen blog ana di atas. Kalo kurang jelas teksnya, ana ketik aja dah:
Dari Abdullah bin Amr
Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Sampaikanlah
dariku walau hanya satu ayat.” (HR. Bukhari)
Berawal dari Rasulullah, kemudian
berlanjut kepada sahabatnya, para tabi’in, dan pokoknya ke seluruh umat deh.
Udah paham, kemudian saling sebar. Bayangin aja, Allah yang membuat skenario
yang sangat indah. Membuat Islam ini masih tetap berkibar dan terjaga
kemurniannya, walaupun banyak yang merusak keaslian ajaran Islam yang hakiki.
Karena dakwah ialah ciri-ciri Muslim yang benar-benar berpikir, pasti ngga
bakal tega ngeliat ajaran ini ditinggalkan. Maka berdakwahlah, konsep utamanya.
Karena berdakwah ini penting bagi
umat, mengajak pada kebaikan dan menghindari keburukan. Dan ditambah lagi
dengan investasi akhirat yang memuaskan spiritual kita. Karena kita bisa
menginsyafin orang, motivasi, dan masih banyak lagi deh keuntungan-keuntungan
yang bakal di dapat.
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah
kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya” (HR. Muslim)
Kemudian,
maksud dari pahala pelakunya, dan gimana penunjukkan yang tepat untuk ngasih
kebaikan, Imam An-Nawawi
menjelaskan, “Maksudnya adalah baginya
pahala sebagaimana pahala yang mengerjakan. Ia menunjukkan dengan perkataan,
lisan, isyarat, dan tulisan.” (Syarah Shahih Muslim)
Mungkin ada kontroversi saat kita menjalani dakwah ini.
Ada yang bilang sok alim, atau bahkan ada yang bilang kalo nyampaikan dakwah
harus bener-bener Ustadz. Kalo ada yang bilangin dakwah itu harus Ustadz, yaa pikir
2x juga sih –hehe-. Memang ada beberapa materi yang udah ke tahap Advance Mode, yang memang udah ahlinya
membahas materi tertentu. Tapi ngga ada salahnya kita “menyambung lidah”
mereka, asalkan kita sebut sumbernya juga.
Tapi kalo kita dibilangin sok alim, atau apa aja dah
perkataan yang nyakitin hati, padahal bahan dakwah kita simple-simple aja, yaa
jalanin aja. Ingatlah, kawan. Seandainya kita menunggu orang yang berdakwah itu
100% alim, pasti ngga ada yang berdakwah. Kok bisa? Karena manusia kayak kita
ini bukan makhluk yang sempurna, kawan. Tiap-tiap hari buat dosa, ngga sadar
pula. Ada dalilnya kok di artikel ana sebelumnya, cari sendiri ya.
Jadi, sambil dakwah, sambil introspeksi diri. Biar
seimbang timbangan spiritual kita ini. Ibnu Hazm berkata, “Seandainya yang melarang dari dosa harus
orang yang tidak terlepas dosa dan yang memerintahkan kebaikan harus orang yang
sudah melakukan kebaikan semua, maka tidak ada lagi yang melarang dari
keburukan dan mengajak kebaikan kecuali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Akhlaq
was Siyar hal. 252-253)
Banyak-banyak do’a, dan jangan lupa
perhatiin hal ini dulu kalo mau dakwah:
1.
Ikhlas,
2. Niat
ngamalin,
3.
Jangan ada ujub sama riya’ menyusup di benak kita,
Mungkin ada yang bingung harus mulai
dakwah di mana. Yang paling praktis yaa, di medsos aja kayaknya deh –hehe-.
Misalnya pake Facebook, atau LINE. Dipahami, klik “Bagikan”. In Syaa Allah,
kita dapat feedback pahala kok.
Kalo kalian punya sahabat, bagus
tuh. Dakwahin, sedikit-sedikit, In Syaa Allah ngikut kok.
Oh iyaa jangan lupa ya, waktu mau
dakwah, dipahamin dulu materinya ya.
Di akhir artikel ini, jangan lupa doain ya, semoga
saudara Muslim kita di Palestina, Suriah, Mesir, dan di negara lain yang sedang
tertindas, bisa kuat menegakkan kalimat Allah, dan senantiasa selalu dalam
lindungan Allah. Kita doain juga saudara Muslim Rohingya kita, dan juga negara
kita ini, Indonesia. semoga Allah menguatkan aqidah kita dan mereka (Muslim
Rohingya) dan selalu dalam lindungan Allah pula. Aamiin.
Oh iya. Yang mau temanan sama ana di medsos, langsung aja
ya di:
LINE: wahyu.km_
FB: Wahyu Kharisma M

Komentar